Sabtu, 03 Juni 2017

Psikologi Agama

Perlunya Mempelajari Psikologi Agama dalam Bimbingan dan Konseling Islam
Perlunya mempelajari psikologi agama adalah karena psikologi agama merupakan disiplin ilmu yang otonom yaitu ilmu yang telah berdiri sendiri. Psikologi agama juga merupakan suatu ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal dan beradab dan dipergunakan secara umum untuk mengetahui tentang tingkah laku dan pengalaman manusia dalam beragama. Sehingga alasan ini lah yang menjadi penyebab perlunya mempelajari psikologi agama dalam bimbingan dan konseling islam. Dengan tujuan agar jiwa keagamaan manusia dapat berkembang dengan baik dan manusia dapat hidup selaras dengan ketentuan dari Allah swt. dengan menyadari hakikatnya dan akan eksistensinya sebagai makhluk ciptaan.
Psikologi agama merupakan cabang dari ilmu psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing. Upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan tersebut dilakukan melalui berbagai pendekatan psikologi. Kemudian, temuan-temuan psikologi agama tentang perkembangan rasa keagamaan pada anak-anak, remaja, dewasa, dan lanjut usia dapat membantu konselor dalam menerapkan teknik-teknik konseling ketika membantu membimbing klien yang berbeda-beda usianya.
Berdasarkan pengertiannya sudah sangat jelas mengapa psikologi agama sangat perlu dipelajari terutama dalam jurusan BKI. Selain itu, ruang lingkup yang menjadi lapangan kajian psikologi agama sangat berhubungan dan berkaitan erat dengan Bimbingan dan Koseling Islam. Karena dalam bimbingan dan konseling islam, seorang konselor islami dalam mengkonselingkan kliennya melakukan berbagai macam pendekatan untuk memecahkan permasalahan seorang klien tersebut. Nah disinilah peran psikologi agama dalam memudahkan seorang konselor menjalankan tugasnya, dengan menggunakan pendekatan agama yakni dengan membangkitkan kekuatan getaran batin (iman) di dalam diri klien tersebut.
 Dalam Islam, aktifitas layanan konseling merupakan suatu pekerjaan dan juga merupakan ibadah kepada Allah swt. yang mana dengan membantu orang lain dan dikerjakan dengan ikhlas maka akan mendapatkan pahala. Oleh karena itu kajian-kajian psikologi agama sangat perlu dipelajari dalam ranah konseling.
Secara terminologis, psikologi agama memang tidak dijumpai dalam kepustakaan Islam klasik, karena latar belakang sejarah perkembangannya bersumber dari literatur Barat. Tetapi walaupun demikian banyak juga buku-buku psikologi agama karangan ilmuwan muslim, jadi kajian dalam psikologi agama bisa diterapkan dalam proses bimbingan dan konseling islam.

Sejarah Perkembangan Psikologi Agama
Sama seperti ilmu-ilmu lainnya psikologi agama juga memiliki sejarah perkembangan yang cukup lama dan latar belakang sejarah yang cukup panjang. Karena itu, psikologi agama dinilai sebagai cabang psikologi yang relatif masih muda di usianya yang belum genap seabad. Selain itu, untuk menetapkan secara pasti kapan psikologi agama mulai dipelajari memang terasa agak sedikit sulit. Selain karena sejarah tidak mencatat kapan pastinya lahir psikologi agama, dalam kitab suci maupun sejarah agama tidak secara lengkap menjelaskan permasalahan yang menjadi ruang lingkup kajian psikologi agama.
Berdasarkan sumber Barat, para ahli psikologi agama menilai bahwa kajian mengenai psikologi agama mulai populer di akhir abad ke-19, yaitu pada tahun 1881 oleh Frazer dan Taylor dan sejak saat itu mulailah berkembangnya cabang ilmu psikologi ini. Sekitar masa itu juga, ilmu psikologi yang telah lama dan semakin berkembang digunakan sebagai alat untuk kajian agama. Kajian semacam itu dapat membantu pemahaman terhadap cara bertingkah laku, berpikir, dan mengemukakan perasaan keagamaan.
Setelah itu banyak para ahli psikologi yang menerbitkan banyak buku yang berhubungan dengan kajian psikologi agama. Sejak itu, kajian-kajian tentang psikologi agama tampaknya tidak hanya terbatas pada masalah-masalah yang menyangkut kehidupan keagamaan secara umum, melainkan juga masalah-masalah khusus. Selanjutnya, kajian-kajian psikologi agama juga tidak terbatas pada agama-agama yang ada di Barat (Kristen) saja melainkan juga agama-agama yang ada di timur (Islam, Hindu, Budha). Sejalan dengan perkembangan itu, para penulis non-Barat pun mulai menerbitkan buku-buku mereka.
 Di tanah air sendiri tulisan mengenai psikologi agama ini baru dikenal sekitar tahun 1970-an, yaitu oleh Prof. Dr. Zakiah Daradjat. Di luar itu juga, ada lagi sejumlah tulisan yang berkaitan dengan psikologi agama ini. Tulisan tersebut dikembangkan di lingkungan bidang kedokteran seperti yang dilakukan oleh Prof. Dr. Aulia maupun K. H. S. S. Djam’an yang melakukan pendekatan dengan menggunakan ajaran agama Islam. Sedangkan di bidang akademik tulisan-tulisan mengenai psikologi agama banyak dihasilakn oleh kalangan gereja katholik.

Perkembangan Jiwa Keagamaan Pada Remaja
Dimulai dengan perkembangan rasa agama, pada tahap ini masa remaja menduduki tahap progresif. Dalam pembagian yang agak terurai masa remaja mencakup juvenilitas (adolescantium), pubertas, dan nubilitas. Sejalan dengan perkembangan jasmani dan rohaninya, maka agama pada para remaja turut dipengaruhi perkembangan itu. Maksudnya, penghayatan para remaja terhadap ajaran agama dan tindak keagamaan yang tampak pada para remaja banyak berkaitan dengan faktor tersebut. Perkembangan agama pada para remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan jasmani dan rohaninya. Menurut W. Starbuck perkembangan itu antara lain:

a.    Pertumbuhan Pikiran dan Mental
          Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis terhadap ajaran agama mulai timbul. Selain masalah agama mereka pun sudah tertarik pada masalah kebudayaan, sosial, ekonomi, dan norma-norma kehidupan lainnya. Hasil penelitian dari Allport, Gillesphy, dan Young menunjukkan bahwa, agama yang ajarannya bersifat lebih konservatif lebih banyak berpengaruh bagi para remaja untuk tetap taat pada ajaran agamanya.
          Sebaliknya, agama yang ajarannya kurang konservatif-dogmatis dan agak liberal akan mudah merangsang pengembangan pikiran dan mental para remaja, sehingga mereka banyak meninggalkan ajaran agamanya. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan pikiran dan mental remaja mempengaruhi sikap keagamaan mereka.

b.    Perkembangan Perasaan
          Berbagai perasaan telah berkembang pada masa remaja. Perasaan sosial, etis, dan estetis mendorong remaja untuk menghayati perikehidupan yang terbiasa dalam lingkungannnya. Kehidupan religius akan cenderung mendorong dirinya lebih dekat ke  arah hidup yang religius pula. Sebaliknya, bagi remaja yang kurang mendapat pendidikan dan siraman ajaran agama maka dia akan kurang pemahaman dalam mengamalkan agamanya.
          Di Barat remaja yang kurang kehidupan religiusnya akan lebih mudah didominasi oleh dorongan seksual. Masa remaja merupakan masa kematangan seksual. Didorong oleh perasaan ingin tahu dan perasaan super, remaja lebih mudah terperosok ke arah tindakan seksual yang negatif.

c.    Pertimbangan Sosial
          Corak keagamaan para remaja juga ditandai oleh adanya pertimbangan sosial. Dalam kehidupan keagamaan mereka timbul konflik antara pertimbangan moral materiil. Remaja sangat bingung menentukan pilihan itu. Karena kehidupan duniawi lebih dipengaruhi kepentingan akan materi, maka para remaja lebih cenderung jiwanya untuk bersikap materialis.

d. Perkembangan Moral

Perkembangan moral para remaja  bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha untuk mencari proteksi (perlindungan). Pada remaja tipe moral mereka berbeda antara yang satu dengan yang lainnya dan itu semua terlihat dalam kebiasaan sehari-hari mereka.

e.    Sikap dan Minat
          Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagamaan boleh dikatakan sangat kecil. Tetapi hal ini tergantung dari kebiasaan masa kecil serta lingkungan agama yang mempengaruhi mereka. Walaupun begitu ada juga remaja yang justru sikap dan minatnya sangat besar terhadap agama yang dianutnya. Hal itu disebabkan karena pengaruh ajaran keagamaan yang menjadi kebiasaan dari masa kecilnya.

f.     Ibadah
          Pandangan remaja terhadap ibadah yang harus dijalankan berdasarkan agamanya berbeda pada setiap orang. Hal ini dikarenakan pengalaman dan ajaran yang diterimanya waktu kecil dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti keluarga, lingkungan, pendidikan dan masih banyak lainnya. Jadi, ada remaja yang taat dan tidak terhadap ajaran agamanya.

Hakikat Manusia dalam Islam
Kehadiran manusia yang pertama tidak terlepas dari asal usul kehidupan di alam semesta ini. Menurut ilmu pengetahuan, asal usul manusia tidak bisa dipisahkan dari teori tentang spesies baru yang berasal dari spesies lain yang telah ada sebelumnya melalui proses evolusi. Menurut pandangan Islam manusia adalah makhluk yang penuh misteri. Dia tidak akan mampu mengungkap siapa dirinya yang sebenarnya. Manusia adalah makhluk yang diberi akal oleh Allah. Dengan akalnya, manusia akan berpikir, dan dengan berpikir, akan banyak timbul pertanyaan yang akan dicari jawabannya.
Asal usul kejadian manusia dalam pandangan Islam tidak terlepas dari figur Adam sebagai manusia pertama. Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Allah di muka bumi dengan segala karakter kemanusiaannya. Figur Adam tidak dilihat dari sisi fisik semata, tetapi dilihat dari sisi bahwa Adam adalah manusia sempurna, lengkap dengan kebudayaannya sehingga diangkat menjadi Khalifah di muka bumi.
 Sesuai dengan Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 30:
øŒÎ)ur tA$s% š/u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) ×@Ïã%y` Îû ÇÚöF{$# ZpxÿÎ=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ßÅ¡øÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡our uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ÏôJpt¿2 â¨Ïds)çRur y7s9 ( tA$s% þÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ
Artinya
“ Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu ?’ Dia berfirman, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.”
           
            Manusia yang baru diciptakan Allah itu (Adam) memiliki inteligensi yang paling tinggi dibandingkan dengan makhluk Allah lainnya. Adam adalah manusia pertama yang memiliki nilai-nilai kemanusiaan.
            Setelah penciptaan Nabi Adam a.s. dan Hawa, manusia selanjutnya diciptakan melalui proses pencampuran antara laki-laki dan perempuan. Seperti yang dijelaskan Allah dalam surat Al-Mu’minun ayat 12-14.

REFERENSI
Jalaluddin, Psikologi Agama,Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2016
Sururin, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004
Jaenuddin,Ujam, Psikologi Kepribadian, Bandung: Pustaka Setia, 2012
Musnamar,Thohari, Dasar-Dasar Konseptual Bimbingan dan Konseling Islami, Yogyakarta: UII Press, 1992
Mubarok,Achmad, Al Irsyad An Nafsy konseling Agama Teori dan Kasus, Jakarta: Bina Rena Pariwara,2000

10 komentar:

  1. Terimakasih,, sngat bermanfaat untuk tugas kuliah saya

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah baik dari hari artikelnya sudah bagus,,, namun masih perlu memperkaya bahan lagi dari berbagai sumber...

    BalasHapus
  3. Terus belajar,,, terutama banyak membaca dan mengkaji buku buku yang bisa memperkaya pengetahuan kita tentang judul artikel....

    BalasHapus
  4. Artikel yg bagus. Dapat menambah wawasan.

    BalasHapus

Psikologi dalam Islam

Assalamualaikum semua…. Dalam pembahasan kali ini saya akan membahas tentang bagaimana Psikologi dalam Pandangan Islam, bagaimana Islam m...