Perlunya
Mempelajari Psikologi Agama dalam Bimbingan dan Konseling Islam
Perlunya
mempelajari psikologi agama adalah karena psikologi agama merupakan disiplin
ilmu yang otonom yaitu ilmu yang telah berdiri sendiri. Psikologi agama juga
merupakan suatu ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal dan
beradab dan dipergunakan secara umum untuk mengetahui tentang tingkah laku dan
pengalaman manusia dalam beragama. Sehingga alasan ini lah yang menjadi penyebab
perlunya mempelajari psikologi agama dalam bimbingan dan konseling islam.
Dengan tujuan agar jiwa keagamaan manusia dapat berkembang dengan baik dan
manusia dapat hidup selaras dengan ketentuan dari Allah swt. dengan menyadari
hakikatnya dan akan eksistensinya sebagai makhluk ciptaan.
Psikologi
agama merupakan cabang dari ilmu psikologi yang meneliti dan mempelajari
tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan pengaruh keyakinan terhadap agama
yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing.
Upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan tersebut dilakukan melalui berbagai
pendekatan psikologi. Kemudian, temuan-temuan psikologi agama tentang
perkembangan rasa keagamaan pada anak-anak, remaja, dewasa, dan lanjut usia
dapat membantu konselor dalam menerapkan teknik-teknik konseling ketika
membantu membimbing klien yang berbeda-beda usianya.
Berdasarkan
pengertiannya sudah sangat jelas mengapa psikologi agama sangat perlu
dipelajari terutama dalam jurusan BKI. Selain itu, ruang lingkup yang menjadi
lapangan kajian psikologi agama sangat berhubungan dan berkaitan erat dengan
Bimbingan dan Koseling Islam. Karena dalam bimbingan dan konseling islam, seorang
konselor islami dalam mengkonselingkan kliennya melakukan berbagai macam
pendekatan untuk memecahkan permasalahan seorang klien tersebut. Nah disinilah
peran psikologi agama dalam memudahkan seorang konselor menjalankan tugasnya,
dengan menggunakan pendekatan agama yakni dengan membangkitkan kekuatan getaran
batin (iman) di dalam diri klien tersebut.
Dalam Islam, aktifitas layanan konseling
merupakan suatu pekerjaan dan juga merupakan ibadah kepada Allah swt. yang mana
dengan membantu orang lain dan dikerjakan dengan ikhlas maka akan mendapatkan
pahala. Oleh karena itu kajian-kajian psikologi agama sangat perlu dipelajari
dalam ranah konseling.
Secara
terminologis, psikologi agama memang tidak dijumpai dalam kepustakaan Islam
klasik, karena latar belakang sejarah perkembangannya bersumber dari literatur Barat. Tetapi walaupun
demikian banyak juga buku-buku psikologi agama karangan ilmuwan muslim, jadi
kajian dalam psikologi agama bisa diterapkan dalam proses bimbingan dan
konseling islam.
Sejarah Perkembangan Psikologi
Agama
Sama
seperti ilmu-ilmu lainnya psikologi agama juga memiliki sejarah perkembangan
yang cukup lama dan latar belakang sejarah yang cukup panjang. Karena itu,
psikologi agama dinilai sebagai cabang psikologi yang relatif masih muda di
usianya yang belum genap seabad. Selain itu, untuk menetapkan secara pasti
kapan psikologi agama mulai dipelajari memang terasa agak sedikit sulit. Selain
karena sejarah tidak mencatat kapan pastinya lahir psikologi agama, dalam kitab
suci maupun sejarah agama tidak secara lengkap menjelaskan permasalahan yang
menjadi ruang lingkup kajian psikologi agama.
Berdasarkan
sumber Barat, para ahli psikologi agama menilai bahwa kajian mengenai psikologi
agama mulai populer di akhir abad ke-19, yaitu pada tahun 1881 oleh Frazer dan
Taylor dan sejak saat itu mulailah berkembangnya cabang ilmu psikologi ini.
Sekitar masa itu juga, ilmu psikologi yang telah lama dan semakin berkembang
digunakan sebagai alat untuk kajian agama. Kajian semacam itu dapat membantu
pemahaman terhadap cara bertingkah laku, berpikir, dan mengemukakan perasaan
keagamaan.
Setelah
itu banyak para ahli psikologi yang menerbitkan banyak buku yang berhubungan
dengan kajian psikologi agama. Sejak itu, kajian-kajian tentang psikologi agama
tampaknya tidak hanya terbatas pada masalah-masalah yang menyangkut kehidupan
keagamaan secara umum, melainkan juga masalah-masalah khusus. Selanjutnya,
kajian-kajian psikologi agama juga tidak terbatas pada agama-agama yang ada di
Barat (Kristen) saja melainkan juga agama-agama yang ada di timur (Islam,
Hindu, Budha). Sejalan dengan perkembangan itu, para penulis non-Barat pun
mulai menerbitkan buku-buku mereka.
Di tanah air sendiri tulisan mengenai
psikologi agama ini baru dikenal sekitar tahun 1970-an, yaitu oleh Prof. Dr.
Zakiah Daradjat. Di luar itu juga, ada lagi sejumlah tulisan yang berkaitan
dengan psikologi agama ini. Tulisan tersebut dikembangkan di lingkungan bidang
kedokteran seperti yang dilakukan oleh Prof. Dr. Aulia maupun K. H. S. S.
Djam’an yang melakukan pendekatan dengan menggunakan ajaran agama Islam.
Sedangkan di bidang akademik tulisan-tulisan mengenai psikologi agama banyak
dihasilakn oleh kalangan gereja katholik.
Perkembangan Jiwa Keagamaan Pada
Remaja
Dimulai
dengan perkembangan rasa agama, pada tahap ini masa remaja menduduki tahap
progresif. Dalam pembagian yang agak terurai masa remaja mencakup juvenilitas
(adolescantium), pubertas, dan nubilitas. Sejalan dengan perkembangan jasmani
dan rohaninya, maka agama pada para remaja turut dipengaruhi perkembangan itu.
Maksudnya, penghayatan para remaja terhadap ajaran agama dan tindak keagamaan
yang tampak pada para remaja banyak berkaitan dengan faktor tersebut. Perkembangan
agama pada para remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan jasmani dan
rohaninya. Menurut W. Starbuck perkembangan itu antara lain:
a.
Pertumbuhan
Pikiran dan Mental
Ide dan dasar keyakinan beragama yang
diterima remaja dari masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi
mereka. Sifat kritis terhadap ajaran agama mulai timbul. Selain masalah agama
mereka pun sudah tertarik pada masalah kebudayaan, sosial, ekonomi, dan
norma-norma kehidupan lainnya. Hasil penelitian dari Allport, Gillesphy, dan
Young menunjukkan bahwa, agama yang ajarannya bersifat lebih konservatif lebih
banyak berpengaruh bagi para remaja untuk tetap taat pada ajaran agamanya.
Sebaliknya, agama yang ajarannya
kurang konservatif-dogmatis dan agak liberal akan mudah merangsang pengembangan
pikiran dan mental para remaja, sehingga mereka banyak meninggalkan ajaran
agamanya. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan pikiran dan mental remaja
mempengaruhi sikap keagamaan mereka.
b.
Perkembangan
Perasaan
Berbagai perasaan telah berkembang
pada masa remaja. Perasaan sosial, etis, dan estetis mendorong remaja untuk
menghayati perikehidupan yang terbiasa dalam lingkungannnya. Kehidupan religius
akan cenderung mendorong dirinya lebih dekat ke
arah hidup yang religius pula. Sebaliknya, bagi remaja yang kurang
mendapat pendidikan dan siraman ajaran agama maka dia akan kurang pemahaman
dalam mengamalkan agamanya.
Di Barat remaja yang kurang kehidupan
religiusnya akan lebih mudah didominasi oleh dorongan seksual. Masa remaja
merupakan masa kematangan seksual. Didorong oleh perasaan ingin tahu dan
perasaan super, remaja lebih mudah terperosok ke arah tindakan seksual yang
negatif.
c.
Pertimbangan
Sosial
Corak keagamaan para remaja juga
ditandai oleh adanya pertimbangan sosial. Dalam kehidupan keagamaan mereka
timbul konflik antara pertimbangan moral materiil. Remaja sangat bingung
menentukan pilihan itu. Karena kehidupan duniawi lebih dipengaruhi kepentingan
akan materi, maka para remaja lebih cenderung jiwanya untuk bersikap
materialis.
d. Perkembangan Moral
d. Perkembangan Moral
Perkembangan
moral para remaja bertitik tolak dari
rasa berdosa dan usaha untuk mencari proteksi (perlindungan). Pada remaja
tipe moral mereka berbeda antara yang satu dengan yang lainnya dan itu semua terlihat
dalam kebiasaan sehari-hari mereka.
e.
Sikap dan Minat
Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagamaan boleh
dikatakan sangat kecil. Tetapi hal ini tergantung dari kebiasaan masa kecil
serta lingkungan agama yang mempengaruhi mereka. Walaupun begitu ada juga
remaja yang justru sikap dan minatnya sangat besar terhadap agama yang
dianutnya. Hal itu disebabkan karena pengaruh ajaran keagamaan yang menjadi
kebiasaan dari masa kecilnya.
f.
Ibadah
Pandangan remaja terhadap ibadah yang harus dijalankan
berdasarkan agamanya berbeda pada setiap orang. Hal ini dikarenakan pengalaman
dan ajaran yang diterimanya waktu kecil dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti
keluarga, lingkungan, pendidikan dan masih banyak lainnya. Jadi, ada remaja
yang taat dan tidak terhadap ajaran agamanya.
Hakikat Manusia
dalam Islam
Kehadiran manusia yang pertama tidak terlepas dari
asal usul kehidupan di alam semesta ini. Menurut ilmu pengetahuan, asal usul
manusia tidak bisa dipisahkan dari teori tentang spesies baru yang berasal dari
spesies lain yang telah ada sebelumnya melalui proses evolusi. Menurut
pandangan Islam manusia adalah makhluk yang penuh misteri. Dia tidak akan mampu
mengungkap siapa dirinya yang sebenarnya. Manusia adalah makhluk yang diberi
akal oleh Allah. Dengan akalnya, manusia akan berpikir, dan dengan berpikir,
akan banyak timbul pertanyaan yang akan dicari jawabannya.
Asal usul kejadian manusia dalam pandangan Islam
tidak terlepas dari figur Adam sebagai manusia pertama. Adam adalah manusia
pertama yang diciptakan Allah di muka bumi dengan segala karakter
kemanusiaannya. Figur Adam tidak dilihat dari sisi fisik
semata, tetapi dilihat dari sisi bahwa Adam adalah manusia sempurna, lengkap
dengan kebudayaannya sehingga diangkat menjadi Khalifah di muka bumi.
Sesuai dengan Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 30:
Sesuai dengan Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 30:
øÎ)ur tA$s% /u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9
ÎoTÎ) ×@Ïã%y` Îû ÇÚöF{$# ZpxÿÎ=yz
(
(#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkÏù `tB
ßÅ¡øÿã $pkÏù à7Ïÿó¡our uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR
x8ÏôJpt¿2
â¨Ïds)çRur y7s9
(
tA$s% þÎoTÎ)
ãNn=ôãr& $tB w tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ
Artinya
“
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak
menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan
orang yang merusak dan menumpahkan darah disana, sedangkan kami bertasbih
memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu ?’ Dia berfirman, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa
yang tidak kamu ketahui’.”
Manusia yang baru diciptakan Allah
itu (Adam) memiliki inteligensi yang paling tinggi dibandingkan dengan makhluk
Allah lainnya. Adam adalah manusia pertama yang memiliki nilai-nilai
kemanusiaan.
Setelah penciptaan Nabi Adam a.s.
dan Hawa, manusia selanjutnya diciptakan melalui proses pencampuran antara
laki-laki dan perempuan. Seperti yang dijelaskan Allah dalam surat Al-Mu’minun
ayat 12-14.
REFERENSI
Jalaluddin,
Psikologi Agama,Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2016
Sururin,
Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004
Jaenuddin,Ujam,
Psikologi Kepribadian, Bandung: Pustaka Setia, 2012
Musnamar,Thohari,
Dasar-Dasar Konseptual Bimbingan dan Konseling Islami, Yogyakarta: UII Press,
1992
Mubarok,Achmad,
Al Irsyad An Nafsy konseling Agama Teori dan Kasus, Jakarta: Bina Rena
Pariwara,2000