Kamis, 06 Juli 2017

Psikologi dalam Islam

Assalamualaikum semua….
Dalam pembahasan kali ini saya akan membahas tentang bagaimana Psikologi dalam Pandangan Islam, bagaimana Islam memandang ilmu kejiwaan itu sendiri? seperti yang kita ketahui bahwa awal lahirnya penemuan atau penelitian tentang kejiwaan bermula di Barat dan sudah pasti ilmu pengetahuan tersebut ada yang bertentangan dengan ajaran Islam walau tidak semuanya, ada yang memang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai seorang muslim . Agama orang-orang Barat yang mayoritas non-muslim menyebabkan mereka memiliki nilai-nilai dan pandangan hidup yang berbeda dengan kita sebagai muslim, selain agama berbagai latar belakang lainnya seperti keluarga, pendidikan, dan lingkungan juga turut mempengaruhi pola pikir mereka. Hal ini ditandai dengan banyaknya para ilmuwan kejiwaan di Barat yang mencetuskan teori yang berbeda walaupun ada beberapa dari mereka yang mengikuti teori dari ahli sebelumnya dan tentunya dengan sedikit tambahan teori yang berbeda baik itu berupa persetujuan atau pertentangan dari ahli itu sendiri. Tetapi, walaupun demikian jauh sebelum para ilmuwan barat mencetuskan teori mereka para ilmuwan muslim sudah lebih dulu menulis buku tentang ilmu kejiwaan seperti Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dan ulama-ulama besar lainnya.
           
Sejarah dan Pengertian Psikologi

Sejarah perkembangan psikologi dimulai saat psikologi masih bersatu dan menjadi bagian dari filsafat. Pada saat itu psikologi dianggap sebagai bagian dari filsafat atau ilmu faal dan belum ada pembuktian secara empiris atau ilmiah. Para ahli filsafat dari zaman Yunani kuno mulai memikirkan gejala-gejala kejiwaan dan mencoba menerangkan gejala-gejala kejiwaan melalui mitologi cara pendekatan ini disebut dengan cara pendekatan naturalistik. Para ilmuwan menganggap filsafat sebagai induk dari segala ilmu pengetahuan, sebab filsafat merupakan tempat berpijak segala kegiatan keilmuwan (Jujun S. Suriasumanteri, 1990: 22).
Psikologi berasal dari kata Yunani, psyche yang berarti “jiwa” dan logos yang berarti ilmu atau ilmu pengetahuan. Secara definitif, psikologi dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala jiwa atau proses mental dan perilaku manusia (Rita L. Arkinson, pengantar psikologi, I: 15). Artinya psikologi adalah ilmu yang berusaha menjelaskan gejala perilaku manusia. Setelah itu psikologi menjadi sebagai disiplin ilmu yang otonom yang kemudian berkembang darinya berbagai cabang disiplin ilmu seperti: psikologi agama, psikologi perkembangan, psikologi kepribadian, psikologi anak dan banyak cabang lainnya.
Psikologi sebagai ilmu terapan (applied science) berkembang sejalan dengan kegunaanya. Dengan demikian, psikologi yang diakui sebagai disiplin ilmu yang mandiri sejak tahun 1879 ini ternyata telah memperlihatkan berbagai sumbangannya dalam memecahkan berbagai problema dan menguak misteri hidup manusia serta mengupayakan peningkatan sumber daya manusia (Djamaluddin Ancok, 1994: 1). Barangkali karena alasan-alasan seperti itu, maka psikologi kemudian berkembang. Berbagai cabang sesuai dengan kepentingan bidang masing-masing memisahkan diri dari induknya dan kemudian menjadi disiplin ilmu yang otonom.
Psikologi secara umum mempelajari gejala-gejala kejiwaan manusia yang berkaitan dengan pikiran (cognisi), perasaan (emotion), dan kehendak (conasi). Gejala tersebut secara umum memiliki ciri-ciri yang hampir sama pada diri manusia dewasa, normal dan beradab. Dengan demikian ketiga gejala pokok tersebut dapat diamati melalui sikap dan perilaku manusia. Namun, terkadang ada diantara pernyataan dalam aktifitas yang tampak itu merupakan gejala campuran, sehingga para ahli psikologi menambahnya hingga menjadi empat gejala jiwa utama yang dipelajari psikologi, yaitu pikiran, perasaan, kehendak, dan gejala campuran. Adapun yang termasuk gejala campuran ini seperti intelegensi, kelelahan maupun sugesti.
Kemudian dalam perkembangan selanjutnya mulai terungkap bahwa gejala-gejala jiwa tersebut tidak sama pada manusia yang berbeda usia. Gejala jiwa yang melatarbelakangi aktivitas, sikap dan tingkah laku anak-anak berbeda dengan anak remaja, serta juga terdapat perbedaan antara remaja dengan orang dewasa maupun orang yang sudah lanjut usia. Kenyataan ini mendorong para ahli psikologi untuk mengembangkan cabang-cabang psikologi yang dapat digunakan untuk mempelajari gejala_gejala manusia pada timgkat usia tertentu. Dari sini timbullah ilmu-ilmu cabang psikologi seperti psikologi anak, psikologi remaja, psikologi orang tua, dan psikologi lanjut usia.
Setelah lahirnya cabang-cabang psikologi dan kemudian menjadi disiplin ilmu yang otonom, pengembangannya tidak berhenti. Sebagai ilmu terapan, tampaknya psikologi berkaitan erat dengan kehidupan manusia secara pribadi maupun dengan lingkungan sosialnya. Kenyataan ini selanjutnya melahirkan cabang-cabang lagi menjadi psikologi kepribadiaan dan psikologi sosial.

Psikologi dalam Pandangan Islam

Psikologi adalah salah satu disiplin ilmu yang penting untuk dipelajari, tetapi karena sebagian besar teori psikologi berasal dari Barat, kerangka pikir (mode of thought) psikologi dipenuhi oleh pandangan dan nilai-nilai hidup masyarakat Barat, yang sebagian besar berbeda, bahkan sangat bertentangan dengan pandangan dan nilai-nilai Islam (Hidayat ma’ruf). Tanpa kehati-hatian, psikologi Barat akan merusak ideologi umat Islam. Demikian pula dengan teori-teori psikologi Barat, banyak yang tidak sesuai bahkan bertentangan dengan pandangan Islam. Sekalipun demikian, ada pula yang tampaknya masih sejalan dengan pandangan Islam, yaitu psikologi eksistensial-humanistik.
Pembahasan tentang jiwa terus berkembang dan berlanjut hingga ilmu jiwa disebut dengan psikologi. Perkembangan selanjutnya dalam psikologi modern adalah pembahasan tentang jiwa yang tidak lagi relevan, dan dalam hal ini adalah pembahasan tentang gejala jiwa, jika tidak akan dikatakan sebagai pembahasan yang mustahil (Ibnu Sina, psikologi ibnu sina: 40). Sebab, konsep jiwa dalam ruang lingkup psikologi modern merupakan entitas yang sudah disingkirkan semenjak psikologi melepaskan diri dari induk filsafat dan bergabung dalam ranah sains modern (Robert Frager, 2005: 34). Hal ini merupakan konsekuensi logis, sekaligus pengorbanan yang harus ditanggung psikologi ketika memasuki bidang sains yang empiris. Selanjutnya, psikologi ditandai dengan hadirnya ilmuwan-ilmuwan psikologi dengan berbagai aliran serta teori-teori yang dihasilkannya.
Dalam dunia Islam, istilah “jiwa” disamakan dengan istilah an-nafs dan ar-ruh, tetapi istilah an-nafs lebih populer penggunaannya dibandingkan ar-ruh. Oleh karena itu, psikologi dapat diterjemahkan juga ke dalam bahasa Arab menjadi ilmu an-nafs atau ilmu ar-ruh. Penggunaan masing-masing kedua istilah ini memiliki asumsi yang berbeda, meskipun ada dalam satu ruang lingkup yang sama, yaitu jiwa. Objek kajian psikologi adalah manusia maka hal yang mendasar dan pertama kali dibicarakan oleh disiplin ilmu ini adalah tentang hakikat manusia dalam Islam.
Dari sudut pandang psikologi, pandangan tentang hakikat manusia mengarah pada sifat-sifat manusia (human nature), yaitu sifat-sifat khas (karakteristik) yang ada pada manusia (J. P. Chaplin, 1997: 231). Hakikat manusia yang dimaksud dalam kajian ini ialah sesuatu yang esensial dan merupakan ciri khas manusia sebagai makhluk yang dapat menjadikan manusia berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya. Islam memandang bahwa wujud atau keberadaaan manusia merupakan sebuah totalitas yang terdiri dari dua dimensi, yaitu dimensi jasmani dan rohani atau dimensi jasad dan ruh/nafs. Istilah yang sering disebut dalam Al-Qur’an untuk menggambarkan unsur manusia yang bersifat rohani adalah ruh dan nafs. Dan istilah lainnya seperti qalb, ‘aql, dan hawa yang digunakan untuk mendeskripsikan hakikat manusia juga banyak dijumpai dalam Al-Qur’an.
Dalam dunia Islam, psikologi selain dapat mempelajari gejala jiwa manusia juga banyak digunakan sebagai alat untuk menjelaskan gejala atau sikap keagamaan seseorang. Dengan ilmu pengetahuan ini, maka dapat disusun langkah-langkah baru yang lebih efisien lagi dalam menanamkan ajaran agama Islam kepada umat. Perilaku seseorang yang tampak secara lahiriah terjadi karena dipengaruhi oleh keyakinan yang dianutnya dan itu semua merupakan gejala-gejala keagamaan pada seseorang. Agama Islam memiliki nilai-nilai moral dan penganutnya memiliki keyakinan bahwa nilai-nilai moral tersebut harus ditanamkan dalam dirinya. Yang dilihat dari seseorang itu adalah bagaimana keyakinan agama tersebut memberi pengaruh dalam perilakunya atau terlihat.
  Psikologi Islam menggunakan pendekatan studi dalam memahami kejiwaan dan perilaku manusia yang berdasarkan konsep tauhid, dengan cara integrasi antara ilmu pengetahuan dan iman. Corak psikologi dalam Islam berlandaskan citra manusia menurut ajaran Islam, yang mempelajari keunikan dan pola perilaku manusia sebagai ungkapan pengalaman interaksi dengan diri sendiri, lingkungan sekitar, dan alam keruhanian, dengan tujuan meningkatkan kesehatan mental dan kualitas keberagamaan. Sejarah keilmuan Islam yang gemilang mencatat ada tiga corak pendekatan yang digunakan dalam memahami jiwa manusia.
Pertama, pendekatan Qur’ani-Nabawi dimana jiwa manusia dipahami dengan merujuk pada keterangan kitab suci al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah saw. Perbincangannya berkisar sifat-sifat universal manusia (syahwat kepada lawan jenis, properti, uang, fasilitas mewah, takut mati, takut kelaparan, pongah, pelit, korup, gelisah, mudah frustrasi), sebab maupun akibatnya (lupa kepada Allah, kurang berzikir, ikut petunjuk syaitan, tenggelam dalam hawa nafsu, hidup merana dan mati menyesal, di akhirat masuk neraka), dan beberapa karakter jiwa (nafs): yang selalu menyuruh berbuat jahat (ammarah bis-su’), yang senantiasa mengecam (al-lawwamah) dan yang tenang damai (al-mutma’innah). Perspektif ini diwakili oleh tokoh-tokoh semisal Ibn Qayyim al-Jawziyyah (w. 1350). Dalam kitabnya ar-Ruh, misalnya, diterangkan bagaimana ruh menjalar di tubuh manusia yang memungkinkannya bergerak, merasa, dan berkehendak. Ruh orang mati itu wujud dan merasakan siksa di alam kubur sekalipun jasadnya hancur.
Kedua, pendekatan Falsafi dimana pelbagai masalah jiwa dibahas menurut pandangan para filsuf Yunani kuno. Mazhab falsafi ini mulai berkembang pada abad ke-10 Masehi, menyusul penerjemahan karya-karya ilmuwan Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Para psikolog Muslim pada masa itu banyak dipengaruhi oleh teori-teori jiwa Plato dan Aristoteles. Tak mengherankan, sebab Aristoteles mengupas aneka persoalan jiwa manusia dengan sangat logis dan terperinci. Teori-teorinya tertuang dalam bukunya De Anima (tentang hakikat jiwa dan aneka ragam kekuatannya) dan Parva Naturalia (risalah-risalah pendek mengenai persepsi inderawi dan hubungannya dengan jiwa, daya hapal dan ingatan, hakikat tidur dan mimpi, firasat dan ramalan). Adapun Plato ialah filsuf yang pertama kali melontarkan teori tiga aspek jiwa manusia: rasional (berdaya pikir), animal (hewani), dan vegetatif (berdaya tumbuh).
Hampir semua filsuf  Muslim yang menulis karya tentang jiwa bertolak dari pandangan Aristoteles. Mulai dari Miskawayh yang menulis kitab Tahdzib al-Akhlaq dan Abu Bakr ar-Razi pengarang kitab at-Thibb ar-Ruhani hingga Ibnu Rusyd dan Abu Barakat al-Baghdadi. Menurut mereka, jiwa manusia adalah penyebab kehidupan. Tanpa jiwa, manusia tak berarti apa-apa. Kecuali ar-Razi, semua filsuf percaya bahwa jiwa manusia itu tunggal dan sendiri. Karenanya mereka menolak teori transmigrasi jiwa dari satu tubuh ke tubuh yang lain, seperti dalam kepercayaan agama tertentu. Dalam salah satu kitabnya, Ibnu Sina menegaskan pentingnya penyucian jiwa dengan ibadah seperti shalat dan puasa. Sebab, menurutnya, jiwa yang bersih akan mampu menangkap sinyal-sinyal dari alam ghaib yang dipancarkan melalui Akal Suci (al-‘aql al-qudsi). Kemampuan semacam inilah yang dimiliki oleh para nabi, tambahnya. Jiwa para nabi itu begitu bersih dan kuat sehingga mereka mampu menerima intuisi, ilham dan wahyu ilahi (Lihat: kitab an-Nafs, ed. Fazlur Rahman, hlm 248-50 dan Avicenna’s Psychology, hlm 36-7).
Ketiga, ialah pendekatan Sufistik dimana penjelasan tentang jiwa manusia didasarkan pada pengalaman spiritual ahli-ahli tasawuf. Dibandingkan dengan psikologi para filsuf yang terkesan sangat teoritis, apa yang ditawarkan para sufi lebih praktis dan eksperimental. Termasuk dalam aliran ini kitab ar-Riyadhah wa Adab an-Nafs karya al-Hakim at-Tirmidzi (w. 898) dimana beliau terangkan kiat-kiat mendisiplinkan diri dan membentuk kepribadian luhur. Menurut Abu Thalib al-Makki (w. 996), jiwa manusia sebagaimana tubuhnya membutuhkan makanan yang baik, bersih, dan bergizi. Jiwa yang tidak cukup makan pasti lemah dan mudah sakit. Semua itu diterangkan beliau dalam kitab Qut al-Qulub (‘nutrisi hati’).
Tokoh penting lainnya ialah Imam al-Ghazali (w. 1111 M) yang menguraikan dengan sangat memukau aneka penyakit jiwa dan metode penyembuhannya. Penyakit yang diderita manusia ada dua jenis, ujarnya, fisik dan psikis. Kebanyakan kita sangat memperhatikan kesehatan tubuh tetapi jarang peduli dengan kesehatan jiwa. Bagaimana cara mengobati penyakit-penyakit jiwa seperti egoisme, serakah, phobia, iri hati, depresi, waswas, dsb beliau jelaskan dalam kitabnya yang berjudul Ihya’ ‘Ulumiddin. (Lihat juga: Amber Haque, “Psychology from Islamic Perspective: Contributions of Early Muslim Scholars and Challenges to Contemporary Muslim Psychologists,” Journal of Religion and Health 43/4 [2004], hlm 357-77).
Di abad modern, upaya-upaya untuk menyelami lautan ilmu psikologi Islam dan “menjual mutiara-mutiara”nya brilian masih terkendala oleh beberapa hal. Selain sikap prejudice terhadap khazanah intelektual Islam di satu sisi, dan sikap fanatik terhadap psikologi Barat modern yang nota bene sekular-materialistik di sisi lain, penguasaan bahasa Arab merupakan conditio sine qua non (syarat mutlak) untuk bisa menjelajahi literatur psikologi Islam yang sangat kaya namun belum terjamah itu. Psikolog muslim tinggal memilih mau terus-terusan merujuk Freud, Skinner, Maslow, Ellis, dsb atau belajar dari para ahli psikologi Islam.
Badri (1981), seorang psikolog berkebangsaan Sudan mengingatkan agar umat Islam berhati-hati dalam menyerap psikologi Barat. Menurut Badri, pengulangan yang tanpa pikir panjang atas teori-teori dan praktik-praktik Barat dalam disiplin psikologi merupakan ancaman serius terhadap status ideologi Islam terutama bagi kaum pemikir dan kaum awam Islam. Menurutnya teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli kejiwaan di Barat sangat bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam, namun karena dilapisi dengan “gula”, kemudian dibungkus dan diberi label “ilmu pengetahuan”, banyak umat Islam yang tergoda akan ilmunya dan menyerap begitu saja.

Referensi
Nata,Abuddin,MetodologiStudiIslam.Jakarta:PT.RajaGrafindoPersada,2013,cet.XX
Jaenuddin,Ujam,PsikologiKepribadian.Bandung:PustakaSetia,2012,cet.I
Jalaluddin,PsikologiAgama.Jakarta:PT. RajaGrafindoPersada,2016,cet.XVIII
Arkinson,RitaL.PengantarPsikologi I.Batam:Interaksa,2010
Fauzi,Ahmad,PsikologiUmum.Bandung:PustakaSetia,1999

Psikologi dalam Islam

Assalamualaikum semua…. Dalam pembahasan kali ini saya akan membahas tentang bagaimana Psikologi dalam Pandangan Islam, bagaimana Islam m...