Assalamualaikum semua….
Dalam pembahasan
kali ini saya akan membahas tentang bagaimana Psikologi dalam Pandangan Islam,
bagaimana Islam memandang ilmu kejiwaan itu sendiri? seperti yang kita ketahui
bahwa awal lahirnya penemuan atau penelitian tentang kejiwaan bermula di Barat dan
sudah pasti ilmu pengetahuan tersebut ada yang bertentangan dengan ajaran Islam
walau tidak semuanya, ada yang memang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
kita sebagai seorang muslim . Agama orang-orang Barat yang mayoritas non-muslim
menyebabkan mereka memiliki nilai-nilai dan pandangan hidup yang berbeda dengan
kita sebagai muslim, selain agama berbagai latar belakang lainnya seperti
keluarga, pendidikan, dan lingkungan juga turut mempengaruhi pola pikir mereka.
Hal ini ditandai dengan banyaknya para ilmuwan kejiwaan di Barat yang mencetuskan
teori yang berbeda walaupun ada beberapa dari mereka yang mengikuti teori dari
ahli sebelumnya dan tentunya dengan sedikit tambahan teori yang berbeda baik
itu berupa persetujuan atau pertentangan dari ahli itu sendiri. Tetapi,
walaupun demikian jauh sebelum para ilmuwan barat mencetuskan teori mereka para
ilmuwan muslim sudah lebih dulu menulis buku tentang ilmu kejiwaan seperti Ibnu
Qayyim Al-Jauziyah dan ulama-ulama besar lainnya.
Sejarah dan Pengertian Psikologi
Sejarah perkembangan psikologi dimulai saat
psikologi masih bersatu dan menjadi bagian dari filsafat. Pada saat itu
psikologi dianggap sebagai bagian dari filsafat atau ilmu faal dan belum ada
pembuktian secara empiris atau ilmiah. Para ahli filsafat dari zaman Yunani
kuno mulai memikirkan gejala-gejala kejiwaan dan mencoba menerangkan
gejala-gejala kejiwaan melalui mitologi cara pendekatan ini disebut dengan cara
pendekatan naturalistik. Para ilmuwan menganggap filsafat sebagai induk dari
segala ilmu pengetahuan, sebab filsafat merupakan tempat berpijak segala
kegiatan keilmuwan (Jujun S. Suriasumanteri, 1990: 22).
Psikologi berasal dari kata Yunani, psyche yang berarti “jiwa” dan logos yang berarti ilmu atau ilmu
pengetahuan. Secara definitif, psikologi dapat diartikan sebagai ilmu
pengetahuan yang mempelajari gejala jiwa atau proses mental dan perilaku
manusia (Rita L. Arkinson, pengantar psikologi, I: 15). Artinya psikologi
adalah ilmu yang berusaha menjelaskan gejala perilaku manusia. Setelah itu
psikologi menjadi sebagai disiplin ilmu yang otonom yang kemudian berkembang
darinya berbagai cabang disiplin ilmu seperti: psikologi agama, psikologi perkembangan,
psikologi kepribadian, psikologi anak dan banyak cabang lainnya.
Psikologi sebagai ilmu terapan (applied science)
berkembang sejalan dengan kegunaanya. Dengan demikian, psikologi yang diakui
sebagai disiplin ilmu yang mandiri sejak tahun 1879 ini ternyata telah
memperlihatkan berbagai sumbangannya dalam memecahkan berbagai problema dan
menguak misteri hidup manusia serta mengupayakan peningkatan sumber daya
manusia (Djamaluddin Ancok, 1994: 1). Barangkali karena alasan-alasan seperti
itu, maka psikologi kemudian berkembang. Berbagai cabang sesuai dengan
kepentingan bidang masing-masing memisahkan diri dari induknya dan kemudian
menjadi disiplin ilmu yang otonom.
Psikologi secara umum mempelajari gejala-gejala
kejiwaan manusia yang berkaitan dengan pikiran (cognisi), perasaan (emotion),
dan kehendak (conasi). Gejala tersebut secara umum memiliki ciri-ciri yang
hampir sama pada diri manusia dewasa, normal dan beradab. Dengan demikian
ketiga gejala pokok tersebut dapat diamati melalui sikap dan perilaku manusia.
Namun, terkadang ada diantara pernyataan dalam aktifitas yang tampak itu
merupakan gejala campuran, sehingga para ahli psikologi menambahnya hingga
menjadi empat gejala jiwa utama yang dipelajari psikologi, yaitu pikiran,
perasaan, kehendak, dan gejala campuran. Adapun yang termasuk gejala campuran
ini seperti intelegensi, kelelahan maupun sugesti.
Kemudian dalam perkembangan selanjutnya mulai
terungkap bahwa gejala-gejala jiwa tersebut tidak sama pada manusia yang
berbeda usia. Gejala jiwa yang melatarbelakangi aktivitas, sikap dan tingkah
laku anak-anak berbeda dengan anak remaja, serta juga terdapat perbedaan antara
remaja dengan orang dewasa maupun orang yang sudah lanjut usia. Kenyataan ini
mendorong para ahli psikologi untuk mengembangkan cabang-cabang psikologi yang
dapat digunakan untuk mempelajari gejala_gejala manusia pada timgkat usia
tertentu. Dari sini timbullah ilmu-ilmu cabang psikologi seperti psikologi
anak, psikologi remaja, psikologi orang tua, dan psikologi lanjut usia.
Setelah lahirnya cabang-cabang psikologi dan
kemudian menjadi disiplin ilmu yang otonom, pengembangannya tidak berhenti.
Sebagai ilmu terapan, tampaknya psikologi berkaitan erat dengan kehidupan
manusia secara pribadi maupun dengan lingkungan sosialnya. Kenyataan ini
selanjutnya melahirkan cabang-cabang lagi menjadi psikologi kepribadiaan dan
psikologi sosial.
Psikologi dalam Pandangan Islam
Psikologi adalah salah satu disiplin ilmu yang
penting untuk dipelajari, tetapi karena sebagian besar teori psikologi berasal
dari Barat, kerangka pikir (mode of thought) psikologi dipenuhi oleh pandangan
dan nilai-nilai hidup masyarakat Barat, yang sebagian besar berbeda, bahkan
sangat bertentangan dengan pandangan dan nilai-nilai Islam (Hidayat ma’ruf).
Tanpa kehati-hatian, psikologi Barat akan merusak ideologi umat Islam. Demikian
pula dengan teori-teori psikologi Barat, banyak yang tidak sesuai bahkan
bertentangan dengan pandangan Islam. Sekalipun demikian, ada pula yang
tampaknya masih sejalan dengan pandangan Islam, yaitu psikologi
eksistensial-humanistik.
Pembahasan tentang jiwa terus berkembang dan
berlanjut hingga ilmu jiwa disebut dengan psikologi. Perkembangan selanjutnya
dalam psikologi modern adalah pembahasan tentang jiwa yang tidak lagi relevan, dan
dalam hal ini adalah pembahasan tentang gejala jiwa, jika tidak akan dikatakan
sebagai pembahasan yang mustahil (Ibnu Sina, psikologi ibnu sina: 40). Sebab,
konsep jiwa dalam ruang lingkup psikologi modern merupakan entitas yang sudah
disingkirkan semenjak psikologi melepaskan diri dari induk filsafat dan
bergabung dalam ranah sains modern (Robert Frager, 2005: 34). Hal ini merupakan
konsekuensi logis, sekaligus pengorbanan yang harus ditanggung psikologi ketika
memasuki bidang sains yang empiris. Selanjutnya, psikologi ditandai dengan
hadirnya ilmuwan-ilmuwan psikologi dengan berbagai aliran serta teori-teori
yang dihasilkannya.
Dalam dunia Islam, istilah “jiwa” disamakan dengan
istilah an-nafs dan ar-ruh, tetapi istilah an-nafs lebih populer penggunaannya
dibandingkan ar-ruh. Oleh karena itu, psikologi dapat diterjemahkan juga ke
dalam bahasa Arab menjadi ilmu an-nafs atau ilmu ar-ruh. Penggunaan
masing-masing kedua istilah ini memiliki asumsi yang berbeda, meskipun ada
dalam satu ruang lingkup yang sama, yaitu jiwa. Objek kajian psikologi adalah
manusia maka hal yang mendasar dan pertama kali dibicarakan oleh disiplin ilmu
ini adalah tentang hakikat manusia dalam Islam.
Dari sudut pandang psikologi, pandangan tentang
hakikat manusia mengarah pada sifat-sifat manusia (human nature), yaitu
sifat-sifat khas (karakteristik) yang ada pada manusia (J. P. Chaplin, 1997:
231). Hakikat manusia yang dimaksud dalam kajian ini ialah sesuatu yang
esensial dan merupakan ciri khas manusia sebagai makhluk yang dapat menjadikan
manusia berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya. Islam memandang bahwa wujud
atau keberadaaan manusia merupakan sebuah totalitas yang terdiri dari dua
dimensi, yaitu dimensi jasmani dan rohani atau dimensi jasad dan ruh/nafs.
Istilah yang sering disebut dalam Al-Qur’an untuk menggambarkan unsur manusia
yang bersifat rohani adalah ruh dan nafs. Dan istilah lainnya seperti qalb,
‘aql, dan hawa yang digunakan untuk mendeskripsikan hakikat manusia juga banyak
dijumpai dalam Al-Qur’an.
Dalam dunia Islam, psikologi selain dapat
mempelajari gejala jiwa manusia juga banyak digunakan sebagai alat untuk
menjelaskan gejala atau sikap keagamaan seseorang. Dengan ilmu pengetahuan ini,
maka dapat disusun langkah-langkah baru yang lebih efisien lagi dalam
menanamkan ajaran agama Islam kepada umat. Perilaku seseorang yang tampak
secara lahiriah terjadi karena dipengaruhi oleh keyakinan yang dianutnya dan
itu semua merupakan gejala-gejala keagamaan pada seseorang. Agama Islam
memiliki nilai-nilai moral dan penganutnya memiliki keyakinan bahwa nilai-nilai
moral tersebut harus ditanamkan dalam dirinya. Yang dilihat dari seseorang itu
adalah bagaimana keyakinan agama tersebut memberi pengaruh dalam perilakunya
atau terlihat.
Psikologi Islam menggunakan pendekatan studi
dalam memahami kejiwaan dan perilaku manusia yang berdasarkan konsep tauhid,
dengan cara integrasi antara ilmu pengetahuan dan iman. Corak psikologi dalam
Islam berlandaskan citra manusia menurut ajaran Islam, yang mempelajari
keunikan dan pola perilaku manusia sebagai ungkapan pengalaman interaksi dengan
diri sendiri, lingkungan sekitar, dan alam keruhanian, dengan tujuan
meningkatkan kesehatan mental dan kualitas keberagamaan. Sejarah keilmuan Islam
yang gemilang mencatat ada tiga corak pendekatan yang digunakan dalam memahami
jiwa manusia.
Pertama,
pendekatan Qur’ani-Nabawi dimana jiwa manusia dipahami dengan merujuk pada
keterangan kitab suci al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah saw.
Perbincangannya berkisar sifat-sifat universal manusia (syahwat kepada lawan
jenis, properti, uang, fasilitas mewah, takut mati, takut kelaparan, pongah,
pelit, korup, gelisah, mudah frustrasi), sebab maupun akibatnya (lupa kepada
Allah, kurang berzikir, ikut petunjuk syaitan, tenggelam dalam hawa nafsu,
hidup merana dan mati menyesal, di akhirat masuk neraka), dan beberapa karakter
jiwa (nafs): yang selalu menyuruh berbuat jahat (ammarah bis-su’), yang senantiasa
mengecam (al-lawwamah) dan yang tenang damai (al-mutma’innah). Perspektif ini
diwakili oleh tokoh-tokoh semisal Ibn Qayyim al-Jawziyyah (w. 1350). Dalam
kitabnya ar-Ruh, misalnya, diterangkan bagaimana ruh menjalar di tubuh manusia
yang memungkinkannya bergerak, merasa, dan berkehendak. Ruh orang mati itu
wujud dan merasakan siksa di alam kubur sekalipun jasadnya hancur.
Kedua,
pendekatan Falsafi dimana pelbagai masalah jiwa dibahas menurut pandangan para
filsuf Yunani kuno. Mazhab falsafi ini mulai berkembang pada abad ke-10 Masehi,
menyusul penerjemahan karya-karya ilmuwan Yunani kuno ke dalam bahasa Arab.
Para psikolog Muslim pada masa itu banyak dipengaruhi oleh teori-teori jiwa
Plato dan Aristoteles. Tak mengherankan, sebab Aristoteles mengupas aneka
persoalan jiwa manusia dengan sangat logis dan terperinci. Teori-teorinya
tertuang dalam bukunya De Anima (tentang hakikat jiwa dan aneka ragam
kekuatannya) dan Parva Naturalia (risalah-risalah pendek mengenai persepsi
inderawi dan hubungannya dengan jiwa, daya hapal dan ingatan, hakikat tidur dan
mimpi, firasat dan ramalan). Adapun Plato ialah filsuf yang pertama kali
melontarkan teori tiga aspek jiwa manusia: rasional (berdaya pikir), animal
(hewani), dan vegetatif (berdaya tumbuh).
Hampir
semua filsuf Muslim yang menulis karya
tentang jiwa bertolak dari pandangan Aristoteles. Mulai dari Miskawayh yang
menulis kitab Tahdzib al-Akhlaq dan Abu Bakr ar-Razi pengarang kitab at-Thibb
ar-Ruhani hingga Ibnu Rusyd dan Abu Barakat al-Baghdadi. Menurut mereka, jiwa
manusia adalah penyebab kehidupan. Tanpa jiwa, manusia tak berarti apa-apa.
Kecuali ar-Razi, semua filsuf percaya bahwa jiwa manusia itu tunggal dan
sendiri. Karenanya mereka menolak teori transmigrasi jiwa dari satu tubuh ke
tubuh yang lain, seperti dalam kepercayaan agama tertentu. Dalam salah satu
kitabnya, Ibnu Sina menegaskan pentingnya penyucian jiwa dengan ibadah seperti
shalat dan puasa. Sebab, menurutnya, jiwa yang bersih akan mampu menangkap
sinyal-sinyal dari alam ghaib yang dipancarkan melalui Akal Suci (al-‘aql
al-qudsi). Kemampuan semacam inilah yang dimiliki oleh para nabi, tambahnya.
Jiwa para nabi itu begitu bersih dan kuat sehingga mereka mampu menerima
intuisi, ilham dan wahyu ilahi (Lihat: kitab an-Nafs, ed. Fazlur Rahman, hlm
248-50 dan Avicenna’s Psychology, hlm 36-7).
Ketiga,
ialah pendekatan Sufistik dimana penjelasan tentang jiwa manusia didasarkan
pada pengalaman spiritual ahli-ahli tasawuf. Dibandingkan dengan psikologi para
filsuf yang terkesan sangat teoritis, apa yang ditawarkan para sufi lebih
praktis dan eksperimental. Termasuk dalam aliran ini kitab ar-Riyadhah wa Adab
an-Nafs karya al-Hakim at-Tirmidzi (w. 898) dimana beliau terangkan kiat-kiat
mendisiplinkan diri dan membentuk kepribadian luhur. Menurut Abu Thalib al-Makki
(w. 996), jiwa manusia sebagaimana tubuhnya membutuhkan makanan yang baik,
bersih, dan bergizi. Jiwa yang tidak cukup makan pasti lemah dan mudah sakit.
Semua itu diterangkan beliau dalam kitab Qut al-Qulub (‘nutrisi hati’).
Tokoh
penting lainnya ialah Imam al-Ghazali (w. 1111 M) yang menguraikan dengan
sangat memukau aneka penyakit jiwa dan metode penyembuhannya. Penyakit yang
diderita manusia ada dua jenis, ujarnya, fisik dan psikis. Kebanyakan kita
sangat memperhatikan kesehatan tubuh tetapi jarang peduli dengan kesehatan
jiwa. Bagaimana cara mengobati penyakit-penyakit jiwa seperti egoisme, serakah,
phobia, iri hati, depresi, waswas, dsb beliau jelaskan dalam kitabnya yang
berjudul Ihya’ ‘Ulumiddin. (Lihat juga: Amber Haque, “Psychology from Islamic Perspective:
Contributions of Early Muslim Scholars and Challenges to Contemporary Muslim
Psychologists,” Journal of Religion and Health 43/4 [2004], hlm 357-77).
Di
abad modern, upaya-upaya untuk menyelami lautan ilmu psikologi Islam dan
“menjual mutiara-mutiara”nya brilian masih terkendala oleh beberapa hal. Selain
sikap prejudice terhadap khazanah intelektual Islam di satu sisi, dan sikap
fanatik terhadap psikologi Barat modern yang nota bene sekular-materialistik di
sisi lain, penguasaan bahasa Arab merupakan conditio sine qua non (syarat
mutlak) untuk bisa menjelajahi literatur psikologi Islam yang sangat kaya namun
belum terjamah itu. Psikolog muslim tinggal memilih mau terus-terusan merujuk
Freud, Skinner, Maslow, Ellis, dsb atau belajar dari para ahli psikologi Islam.
Badri
(1981), seorang psikolog berkebangsaan Sudan mengingatkan agar umat Islam
berhati-hati dalam menyerap psikologi Barat. Menurut Badri, pengulangan yang
tanpa pikir panjang atas teori-teori dan praktik-praktik Barat dalam disiplin psikologi
merupakan ancaman serius terhadap status ideologi Islam terutama bagi kaum
pemikir dan kaum awam Islam. Menurutnya teori-teori yang dikemukakan oleh para
ahli kejiwaan di Barat sangat bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam,
namun karena dilapisi dengan “gula”, kemudian dibungkus dan diberi label “ilmu
pengetahuan”, banyak umat Islam yang tergoda akan ilmunya dan menyerap begitu
saja.
Referensi
Nata,Abuddin,MetodologiStudiIslam.Jakarta:PT.RajaGrafindoPersada,2013,cet.XX
Jaenuddin,Ujam,PsikologiKepribadian.Bandung:PustakaSetia,2012,cet.I
Jalaluddin,PsikologiAgama.Jakarta:PT. RajaGrafindoPersada,2016,cet.XVIII
Arkinson,RitaL.PengantarPsikologi I.Batam:Interaksa,2010
Fauzi,Ahmad,PsikologiUmum.Bandung:PustakaSetia,1999